Katanya

Ada orang yang mengatakan padaku bahwa rindu itu tidak bisa dikendalikan, lalu yang lain mengatakan bahwa kitalah tuan dari segala rasa, ada lagi yang bilang Tuhanlah pengendali segalanya, kemudian lagi aku bingung.

Ada yang mengatakan bahwa keserdehanaan adalah baik adanya, tapi ada yang merasa dituntut oleh keadaan sehingga berlebih-lebihan.

Katanya menjadi diri sendiri adalah yang terbaik, ramai orang bilang Be yourself namun takut jika terlihat beda dari yang lain. 

Ada yang bilang jangan tidur terlalu malam, tapi nyatanya orang bukan begadang karena ingin, tapi kadang malam terlalu memaksa orang-orang untuk mempersembahkan malamnya pada masalalu atau cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Tapi yang aku sadari…

Gabut itu benar adanya.

Catatan unfaedah, 25 Juni 2017

Capai dengan Motivasi

Menulis capek menggunakan capai pada judul ini membuat saya sedikit merasa aneh. Saya jadi ingat guru bahasa Indonesia saya saat penghujung ujian tahun 2016 lalu. Lewatkan saja soal itu. Seperti judul tulisan ini, saya capek dengan motivasi. Kadang motivasi hanya terdengar sebagai kalimat basa-basi saat tidak ada lagi kata yang harus diucapkan ketika kita menghadapi seseorang yang sedang putus asa. Sebenarnya hal itu tidak begitu saya rasakan sekarang, tapi sangat saya rasakan tahun kemarin. Saya merasa motivasi-motivasi yang datang pada saya sebagai sesuatu yang sekadar numpang lewat.  Baca lebih lanjut

Pi(sah)

Aku meletakkan gelasku untuk yang ke sekian kali. Hujan sudah reda sejak sepuluh menit yang lalu dan meninggalkan jejak pelangi di aspal yang terkena tetesan minyak atau oli motor yang bercampur dengan hujan dan menjadikannya pelangi jadi-jadian. Aku sudah berkutat dengan laptopku sejak empat jam yang lalu di sebuah kafe dekat tempat tinggalku. Jika kau bertanya apakah pemilik kafe tidak mengusirku karena terlalu lama berada di kafenya? Jawabannya tidak. Entah kenapa, mungkin ada alasan yang bagus di balik itu, mari berpikir positif.  Baca lebih lanjut

Kurang dari Satu Jam

Aku duduk di sebuah kursi panjang di bandara. Aku menatap sekitar sesering mungkin. Berharap orang yang kucari akan kutemui di sini, ia bilang akan berangkat ke Jakarta pukul delapan pagi dan sekarang, jam masih menunjukkan pukul enam pagi, “Dua jam lagi,” aku bergumam sendirian. Aku terus menatap jam di tangan kiriku dan sebuah ponsel di tangan kananku. Orang-orang terus berlalu lalang, ada yang pergi, ada yang ditinggal. Baca lebih lanjut

Dah Kadung

Bapak menyesap kopinya, lagi. Ini sudah gelas ke tiga sejak sore tadi hingga sekarang pukul delapan malam. Aku juga masih di sini sejak sore tadi, di depan bapak. Aku tahu ada yang salah dan aku tahu apa yang salah, tapi kesalahan itu hanya berlaku bagi bapak, untukku tidak. “Hmm,” bapak berdehem lagi untuk pertama kali setelah selesai sembahyang, aku masih menunduk menatapi dasar rumah yang dilapisi semen yang sudah retak-retak, tetap terlihat meski samar karena malam. Baca lebih lanjut