Banyak Alasan untuk Menjadi Bahagia

Beberapa kali saya selalu mengurungkan niat untuk pergi nonton ke bioskop, alasannya, saya punya banyak cara untuk bisa terhibur tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan.

Read More »

Iklan

Kata dan Aku

Aku ingin berkata-kata lagi, tapi kata menolak dimainkan.

Aku ingin bergumul dengan kata-kata lagi, tapi dia acuh melengos pergi.

Namun juga aku tahu, kata tidak pergi begitu saja, karena kata pergi setelah aku pergi—meninggalkannya begitu saja (dulu).

Kata tahu aku rindu, tapi tampaknya dia juga paham jika yang aku butuhkan lebih dari tegur sapa.

Aku ingin membuatnya jadi perantara—untuk puisiku pada orang yang nun jauh di sana tapi masih tetap di Indonesia bagian Barat.

Bandar Lampung, 18 April 2018

Titik Ini

Dulu gue pernah galau. Galau yang membuat gue berpikir kalau gue nggak bakal bisa beranjak dari perasaan menyebalkan itu. Barusan gue baca tulisan lama gue tentang, yah, orang lama. Gue baca sambil manggut-manggut, ternyata gue pernah segalau itu. Sampai hari ini, baca tulisan itu masih bisa kerasa suasana hati gue yang sesenggukan saat itu. 

Dan begitulah paragraf itu tercipta, dulu, sebelum tulisan ini kembali saya lanjutkan. Tahun ini saya menginjak umur 20 tahun, umur yang masih muda tapi cukup untuk membuat saya berpikir bahwa saya bukan lagi anak belasan tahun yang galau soal perasaannya sendiri begitu saja. Orang lama itu jadi bagian dalam proses saya sampai bisa di titik ini, titik dimana saya melihat semua kegalauan saya saat itu sebagai hal yang lucu sekaligus memberi pelajaran bahwa saat itu, dalam menjalin hubungan, saya masihlah sangat, yah, dodol.

Saya selalu ingin tahu kabar tentang orang-orang lama yang pernah haha-hihi-huhu dengan saya dulu, orang-orang yang pernah membagi cerita penting mereka kepada saya, orang-orang yang pernah saya bagikan cerita tentang apa pun yang saya pikirkan saat itu. Saya tidak tahu apakah orang lama itu akan sampai di sini atau tidak, ya moga-moga sih, enggak ya. Salam.

Mi Ayam tanpa Ayam

Kemarin saya sedang ingin-inginnya makan mi ayam dan posisi waktu yang sudah sangat sore dan makin gelap sehingga tidak memungkinkan saya untuk keluar lagi, jadilah saya memesan lewat jasa ojek daring, setelah memesan saya dihubungi abang ojeknya kalau ayamnya habis. “Apa beda dengan mi rebus?” begitu batin saya, tapi akhirnya tetap saja saya pesan ditambah dengan beberapa potong ceker ayam pedas, begitulah mi ayam tanpa ayam itu menemani saya yang lapar di waktu sore menjelang malam. Eh, tapi kan saya pakai ceker, apa itu masih tetap disebut mi ayam?

Sebenarnya Apa yang Perlu dibagi?

Pembahasan tentang media sosial nggak pernah ada habisnya. Sejak lama saya mempunyai satu pertanyaan yang tidak pernah saya tanyakan, ” Apa yang sebenarnya perlu kita bagikan di media sosial?” makin maraknya media sosial makin banyak kita lihat orang dengan tujuannya masing-masing untuk mengunggah sesuatu, entah itu sharing, jualan, promosi, atau lainnya. Media sosial sebagai dunia yang terlihat lebih penting dibanding dunia nyata menjadikan kebanyakan orang yang saya lihat menjadi versi lain dari dirinya, selain dari foto yang edited, caption yang dipikirkan baik-baik, sampai kalau saya lihat di Instagram (sebelum saya tutup akun) banyak dari teman-teman saya yang terlihat menahan sesuatu yang ingin dia unggah, entah itu galeri Instagramnya jadi berpola, hitam-putih, berwarna, semuanya diatur sedemikian rupa.Read More »