#Random: Perkara Beda Selera


Rasanya pengin minta maaf, tapi nggak tahu harus minta maaf ke siapa. Gue nggak mau ngeles banyak soal kenapa hiatus dari sini lumayan lama. Gue menulis ini di sela-sela rasa ngantuk dan keinginan untuk menyudahi tugas yang… ah sudahlah. Apa kabar kalian? Setiap hari selalu ada pemberitahuan masuk lewat email soal update-an dari teman-teman blog, gue sedih karena gue nggak nulis-nulis dari entah kapan. Setiap hari juga bukain aplikasi WordPress buat lihat updatean di timeline, yang lebih ramai dengan postingan dari 9to5Mac.
Jadi ada sebuah sebutan yang digunakan untuk orang-orang yang menyukai suatu hal tapi ia tidak ingin orang lain mengetahuinya, karena hal itu dianggap aneh atau norak. Misalnya, ada seseorang yang suka nonton drama kolosal, tapi karena menurut teman-temannya hal itu norak, maka seseorang itu berusaha menutupinya. Gue lupa sebutannya apa, sudah cari tapi ndak ketemu juga, kalau ada yang tahu  bisa komentar, ya. Dari kecil gue sudah mengalami itu, gue suka drama kolosal, dulu, pas masih ramai-ramainya, terus ada teman yang ngebahas soal noraknya nonton drama kolosal. Gue yang saat itu tahu anggapan itu tapi dengan perasaan masih senang nonton acara itu pun hanya diam dan meng-iya-kan. 

Seiring berjalannya waktu, seiring kesukaan gue yang selalu monoton dan cenderung tidak berkembang membuat gue meng-‘ih’-kan kesukaan orang lain yang menurut gue itu; lebay. Jujur lho ini. Dari mulai teman-teman gue yang doyan nonton drama korea, orang rumah yang doyan nonton sinetron, buat gue itu hal yang kadang selalu gue tanyain ‘ngapain sih?’ gue nggak sampai bilang ‘norak ya, tontonanmu’ tapi hati gue tetap berkata demikian. Melihat gadis-gadis di sekitar gue yang fanatik dengan boy band atau K-Pop, terkadang membuat gue bersyukur bahwa gue nggak harus membuang energi untuk mencari tahu segala hal tentang itu karena memang gue nggak berminat. 

Entah apa yang mengubah pemikiran gue bahwa sebenarnya nggak ada yang salah dari menyukai sesuatu. Nggak ada yang aneh as long as itu nggak ngelanggar norma dan aturan, nggak ada yang salah suka dengan drama Korea, K-Pop, apa pun itu, karena pasalnya setiap orang memiliki sebuah hal yang dia sukai. Standar normal tiap orang nggak sama, norak nggak norak itu balik lagi bagaimana kita melihat itu. Gue mulai aware akan keberadaan orang-orang itu dan ternyata nggak ada yang salah, Cuma gue yang membuat batas untuk hal yang menyenangkan, boleh saja gue terapkan itu di hidup gue, tapi nggak untuk hidup orang lain. Sering gue diomongin karena gue masih doyan banget nonton anime, katanya nggak pas dengan umur gue yang sudah bukan bocah lagi. 

Setelah mendapat sapaan demikian gue berpikir, ‘apa yang salah?’ dan ternyata nggak ada, karena kita Cuma beda selera dan itu normal, lo mau suka hal apapun itu suka-suka lo. Pernah kemarin gue bilang ke salah satu teman yang mengira gue suka drama Korea, gue tanya ke doi, “Apa salahnya suka drama korea? Itu Cuma soal beda selera, kan?” dan doi hanya jawab “Iya, juga ya.” jadi yang gue tangkap dari perasaan orang yang beranggapan demikian yang sama seperti gue dulu, kita hanya menganggap normal apa yang kita suka dan bergantung dengan tingkat normal dalam hidup kita. Kita nggak bisa berempati terhadap orang-orang yang memiliki minat yang beda dengan kita. Kita hanya nggak tahu alasan mereka suka dan kenapa mereka bisa seperti itu. Jadi menurut lo, apakah beda selera itu masih jadi masalah? Rasanya enggak, memang gue terlambat menyadari ini, tapi gue nggak mau berpikiran sama kaya dulu dan pengen lebih bebas tanpa rasa-rasa yang merepotkan seperti dulu. Just let people enjoy things!

Iklan

Nonton Pengabdi Setan Reboot

Sutradara: Joko Anwar

Cast: Ayu Laksmi as Ibu

Bront Palarae as Bapak

Tara Basro as Rini

Endy Arfian as Toni

Nasar Anuz as Bondi

Adhiyat Abdulkhadir as Ian

Waktu itu, yang gue lupa kapan, gue memutuskan untuk nonton Pengabdi Setan setelah jam kuliah selesai. Dengan nyali yang dikumpulkan selama perjalanan karena gue nonton sendirian, gue buru-buru beli tiket yang tinggal menyisakan tempat duduk di barisan F, which is, tempat paling bawah dan kalau mau nonton lo harus sedikit nengkok ke atas. Pegel bo. Tapi semua kerusuhan itu terbayar. 

Pengabdi Setan garapan om Joko Anwar ini memakan waktu sepuluh tahun untuk akhirnya diterima produser film. Sebelumnya gue sudah berhasil nonton film Pengabdi Setan yang pertama tahun 1981, jujur gue ketawa lihatnya, mungkin karena jarak yang jauh antara 1981 dan 2017 dimana hantu-hantu pun mengalami perubahan, selera penonton juga makin bervariasi, dan Pengabdi Setan 1981 pun gue yakin itu serem pada zamannya. Sekarang Pengabdi Setan reboot ini sudah berada di bioskop selama lebih dari satu bulan dan angka penontonnya pun nggak main-main, lebih dari 4,3 juta orang sudah menyaksikan film ini. Sorry kalau postingan ini akan sedikit spoiler.

Pengabdi Setan bercerita tentang sebuah keluarga yang jarang beribadah, sosok ibu (Ayu Laksmi) diceritakan telah sakit sejak dua tahun terakhir dan pada akhirnya meninggal, sepeninggalan ibunya, keluarga yang ditinggalkan mengalami berbagai kejanggalan dan gangguan. Mulai dari nenek mereka yang meninggal dengan cara mengenaskan dan seorang pemuda yang berperan sebagai teman Rini (Dimas Aditya) mengalami kecelakaan dan akhirnya juga meninggal karena hendak membantu mereka. Keluarga ini digambarkan sebagai keluarga yang tidak agamis dan juga tidak percaya pada hal-hal yang berbau takhayul, hingga mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa ibu mereka kembali datang untuk menjemput mereka.

Kabarnya film ini akan segera tayang di beberapa negara luar, antara lain; Malaysia, Singapura, Amerika Latin, Jerman, dan beberapa negara lain. Sampai hari ini Pengabdi Setan masih ada di bioskop, dan sepertinya sebentar lagi akan gulung layar, mengingat ini sudah masuk hari ke-38 Pengabdi Setan tayang di bioskop. Buat kalian yang belum nonton film ini, tontonlah, film ini bakal ngasih pengalaman yang seru dan memacu adrenalin lo. Gue sendiri jadi ngefans dengan pemeran ibu, mbak Ayu Laksmi, peran ibu yang sebenarnya ga ambil banyak bagian di film ini, menjadi peran yang paling mengena menurut gue. Beliau benar-benar bisa menyampaikan pesan ibu secara tersirat ke penonton, tentang keinginan, kasih sayang, dan penyesalan dan juga ada beberapa dialog yang bikin ketawa sebelum lo dibuat nahan napas. Ayo tonton, jangan nunggu keluar di YouTube! Haha. Salam.

Ketika Sudah Tidak ABG Lagi

Tahun depan umur gue bertambah. Beberapa waktu yang lalu sempet kepengin banget bisa loncat ke masa dewasa (23/24 th) dikarenakan lelahnya gue menghadapi diri sendiri. Tapi ini proses, umur bertambah itu proses, jadi dewasa itu proses. Gue nggak tahu pasti seperti apa orang yang dewasa itu, tapi ada sebuah kutipan mengatakan kalau kedewasaan itu muncul lewat pengalaman bukan umur dan gue berpikir apakah pengalaman gue sudah cukup mumpuni untuk membentuk diri gue menjadi seorang yang dewasa? Siapa yang tahu?

Menjelang umur yang makin tua juga gue mulai menyadari beberapa hal, mulai dari gue yang benar-benar sadar bahwa gue suka banget sendirian kemanapun dan merasa hal itu kadang nggak baik, karena bagaimanapun gue tetap butuh teman untuk berbagi. Jadi, teman nggak hanya buat tempat gue cerita, tapi juga jadi tempat gue berbagi apa yang gue jalani. Gue mulai melihat lagi apa saja yang sudah gue lalui selama gue di dunia ini, dari yang bikin seneng sampai yang bikin seneb jleb.

Berurusan dengan diri sendiri adalah hal yang paling menyusahkan, gimana enggak, ketika lo melakukan sesuatu yang harusnya bisa lo lakukan dengan lebih baik tapi nyatanya malah sebaliknya, lo mau kesel, tapi keselnya sama siapa, kan, diri sendiri juga ujungnya. Gue juga menyadari bahwa gue masih kurang ekspresif, bukan apa-apa, gue anaknya aneh, tapi masih takut dibilang aneh. Yha. Gue juga makin legowo menelan semua kritik yang masuk ke kotak hidup gue. Gue makin sadar tentang keberadaan orang-orang yang selalu mengasihi gue tiap waktunya. Gue dikasih sahabat yang baik-baik. Pokoknya Allah ngasih banyak hal ke gue yang kadang lupa gue syukuri.

Harapan gue ke diri sendiri masih cenderung sama sampai saat ini, yaitu membuka diri ke orang lain. Ada yang pesan sama gue dan bilang supaya gue membuka setidaknya sedikit dari diri gue untuk mengenal orang lain, karena doi pikir gue ini terlalu tertutup. Sebenarnya enggak juga, gue bahkan membeberkan semua hal dengan orang-orang yang gue percaya, jadi gue tidak bisa dibilang seansos itu. 

Gue bukan ABG lagi, tandanya KTP dan perintilan hal lain yang sudah harus disikapi sebagaimana orang dewasa lainnya. Gue bukan ABG lagi yang bisa dengan emosionalnya merengek tentang hal yang ngga bisa gue dapat. Gue bukan ABG lagi yang jatuh cinta dengan sembrono dan galau dengan porsi yang berlebihan. 

Semoga postingan selanjutnya lebih berguna, ya. Salam.

Ada Seseorang di Duniaku

Aku menemukannya di antara tumpukan kata-kata dan makna.

Ia tampak seperti pengembara puisi yang terus berjalan dikawani angin.

Di kantung matanya tersimpan kata dari setiap malam yang ia lewati, dengan angin juga tentunya.

Cangkir kopi, cahaya gawai, bergantian mengiringi waktunya, “Aku nyaman.” Ujarnya.

“Apa kau melihatku?” Seperti ada bagian dalam diriku yang bertanya tentang hal yang bahkan jawabannya sudah diketahui sejak lama.

Di kamarnya, buku-buku selalu menunggu giliran untuk bisa dibaca.

Di rumahnya tersedia keteduhan dari kasih sayang ibu dan bapak.

Di dirinya ada hal tentang sesuatu yang tak bisa kumengerti begitu saja.

Aku ingin mengerti bahwa rasa sakit itu bisa jadi lebih bijaksana daripada hujan, angin, atau cinta sekalipun.

Aku ingin mengerti bahwa rasa yang berdiri sendirian tidak pernah menyedihkan sekalipun terkatung-katung di jalanan.

Ada seseorang di duniaku. 

Bung, bisakah kau lihat aku?

Laut yang Membawaku

Kepada laut aku serahkan diriku beserta segala kegundahan di dalamnya.

Kepada laut aku serahkan rasa-rasa memilukan yang telah lama bersemayam.

Kepada laut aku serahkan rapal-rapal harap dan cemas yang menyedihkan untuk disimpan.

Dengan laut aku berbagi diri yang kesakitan, dijawabnya lenguhanku dengan kebebasan yang ia punya.

“Tuhan mengirimku untuk memberitakan pada manusia tentang kebebasan yang direnggut waktu atau bahkan dirinya sendiri.”Jawabnya.

Laut menyampaikan padaku untuk membagi semua rasa padanya dan angin dan terik dan awan dan pada-Mu.

Laut menyampaikan padaku bahwa ombak akan pasang dan surut pada waktunya.
Bandar Lampung, 26 September 2017

Lebih dari Sekadar Bidikan Foto

Cerita perjalanan kemarin masih akan gue lanjutkan. Maaf kata ganti sering berubah, lagi nyari yang nyaman aja. Jadi setelah perjalanan kemarin, foto di kamera dan hp gue terbilang tidak banyak. Sampai ada temen yang tanya, “Lo nggak foto, Bel?” “Enggak,” jawab gue. Gue suka ngambil foto sesuatu yang memang ciamik difoto, tapi setelah itu selesai gue akan menyimpan kamera atau hp gue. Memang foto itu penting buat kita mengenang hal-hal yang pernah kita jalani. Tapi menurut gue penting juga kita ngasih memori ke diri kita tentang perjalanan itu.

Waktu ke Karangsong Indramayu, gue hanya beberapa kali ngambil foto sendiri, selebihnya numpang ke panitia dokumentasi, itu pun nggak banyak, pas gue lagi ada aja. Saat itu, gue membidik beberapa foto dan kemudian memilih jalan sendiri agak belakangan buat nikmatin reotnya jalan bambu di hutan mangrove, ngeliatin akarnya yang kemana-mana dan ngerasain atmosfernya. Begitu juga waktu dipantai, sampai ada yang bilang kalo gue lagi merenung. Emang gue ngalor ngidul sendiri kemarin, gue pengen bener-bener ngerasain suasana pantai di sana. Ombaknya yang perlahan-lahan nyamperin daratan, pasir hitamnya, sampe sampah-sampah yang dibawa laut gue nikmatin juga. Sampai sekarang gue masih bisa ngerasain gimana suasana waktu itu, gue masih bisa ngerasain wajah gue yang ditiup angin, pikiran gue yang ikut kebawa ombak, semuanya nggak bakal bisa diganti dengan bidikan kamera, diri gue punya memorinya sendiri. 

Begitu juga waktu gue memutuskan ke Bandung sendirian, sampai di stasiun jam 2.30 pagi dan gue bermotor ria jam segitu sepanjang jalan sampai rumah. Gue liat pasar pagi buta yang sudah ramai, gue liat betapa kota ini lengang banget, dan sebagaianya. Ketika besoknya gue memutuskan untuk ke alun-alun, gue hanya membidik beberapa momen untuk menandakan gue pernah ke situ. Selebihnya gue menikmati ramainya orang-orang yang baru selesai pengajian di masjid agung, gue ngeliatin bule yang sibuk diajak foto sama turis lokal, gue liat orang-orang kumpul dan ngobrol. Gue lanjut jalan ke mana-mana yang gue sendiri nggak tau apa nama jalannya. Gue nikmatin Bandung siang yang panas, gue nikmatin keramah-tamahan orang-orangnya, asli orang Bandung ramah bangettt. Lalu gue melanjutkan jalan ke daerah museum di Braga, ngelewatin lukisan jalanan, ngeliatin orang yang minum kopi di kafe sambil mandangin kemacetan, dan akhirnya gue memutuskan untuk ke Palasari, tempat jual buku-buku lama dan baru. Sepanjang jalan lo akan menemukan banyak pedagang buku yang menawarkan buku-bukunya, ketika lo masuk lebih dalam, akan lebih banyak lagi toko buku yang berjejer, setelah itu gue random naik angkot yang entah kemana, sampai gue lewat jalan Buah Batu dan akhirnya ngobrol sama bapak angkotnya yang super ramah ngasih tau gue apa aja yang dilewatin saat itu. Satu memori yang nggak gue lupa ketika sampai di Palasari adalah ketika gue dimintain duit sama ibu-ibu yang nggak gue kenal dia siapa dan doi ngedesek abis dan yang pasti juga pikiran gue nggak positif ke ibu itu. Yhaa

Perjalanan ini bikin gue inget tentang teater yang juga mengajarkan hal serupa, yakni: ngasih memori ke tubuh. Perjalanan gue yang super random ini benar-benar sudah memberikan banyak memori untuk diri gue dan itu lebih banyak gue dapatkan dibanding momen di memori kamera gue, begitulah makna perjalanan sesungguhnya buat gue. Salam.

TnT Indramayu #5: Saya Memulainya dari Sini

Setelah belajar selesai waktu istirahat pun tiba, agenda setelahnya adalah bermain, tapi berhubung cuacanya panas terik jadi kami menunggu sampai panasnya redup, saat menunggu cuaca membaik para volunteer ada yang memanfaatkannya untuk istirahat dan ada juga yang ngumpul di warung seperti saya dan teman-teman yang lain membahas apa saja yang dikerjakan seharian ini, bagaimana anak-anaknya, dan perintilan kejadian hari itu dari yang menyenangkan sampai yang engingeng. Baca lebih lanjut