Pada Sebuah Bagian, Kita Ingin Ada Jeda yang Panjang

Dalam banyak kesempatan kita membuat banyak bayang untuk dikenang.

Dalam satu-dua lembaran kita mencoba untuk berjalan pelan-pelan dan perlahan.

Pernah juga kita mencoba berlari walau nyatanya tak ada nyali, karena kita sadar, bahwa berdua lebih nyaman daripada sendiri

Dan dibanyak tempat dan paragraf, kita ingin ada jeda yang panjang, jeda yang kita harap tak pernah lekang.

Namun, pada akhirnya kita harus bisa terima bahwa setiap cerita akan berakhir dengan titik.

Dan sampai pada bait terakhir ini, titik itu juga yang masih kita pertanyakan, apakah benar titik itu yang kita inginkan?

Iklan

Perempuan yang Membuatmu Patah Hati

Aku hampir menertawaimu kalau saja aku tidak ingat bahwa kau sedang dalam keadaan super tidak mood. Tidak bergairah melakukan apapun, bahkan untuk sekadar tersenyum menanggapi candaanku tentang hal-hal yang melintas tiba-tiba. Baiklah-baiklah, kali ini aku akan pasang badan menyiapkan telinga dan jiwaku untuk mendengarkan patah hatimu yang ke… Ke berapa, ya?

“Aku serius! Bahkan… Bahkan, ia menolakku sebelum aku sempat berkata apa-apa padanya!”

Aku menangguk tanda mendengarkan, aku berusaha sebaik mungkin menyerap informasi yang keluar dari mulutmu.

“Kau harus tahu, saat pertama kali aku melihatnya, kupikir dia adalah yang terakhir, kupikir dia akan jadi satu-satunya, dan akhirnya aku juga tahu, aku bukan satu-satunya lelaki baginya.”

Baik, kasusmu masih sama.

“Aku bahkan masih ingat saat pertama kali ia menjabat tanganku, senyumnya yang bak bulan sabit, tipis, tapi berhasil membuatku beku untuk terus-menerus menatapnya.”

Hal yang harus kau tahu, setiap orang akan berusaha terlihat sebaik mungkin pada pertemuan pertama. Pada kesan pertama. Dan kau terjebak di situ.

“Dian, jawab aku, apakah kau pernah patah hati?” tanyamu.

Aku yakin mataku makin membulat mendengar pertanyaanmu, patah hati, huh?

“Tentu saja pernah. Kau pikir aku batu?”

“Seberapa sering kau patah hati?”

Sebanyak jumlah perempuan yang membuatmu patah hati. Batinku.

Cerita Masa Kecil #1: Mak Bonah dan Bala-Bala

Di hari yang cerah ini saya kepikiran tentang masa kecil. Masa kecil saya dihabiskan dengan ngintilin atau ngikutin ibu saya kemana-mana, termasuk sekolah. Ibu saya seorang guru di sebuah SD dan setiap beliau sekolah saya selalu ikut dan akhirnya saya juga sekolah di SD itu.

Sebuah SD di pelosok negeri yang Alhamdulillah terjamah. Jalan bagus, listrik ada, walau sebagian jalan masih tanah berbatu yang kalau hujan bikin ban motor muter-muter tujuh keliling. Seperti SD pada umumnya, banyaknya jajanan yang dijejer depan sekolah adalah salah satu alasan saya—saat itu, semangat sekolah. Dapet uang jajan, ya, dimanfaatkan. Saya masih merasakan harga-harga jajanan yang sekarang mungkin sulit atau bahkan ga bakal kita dapetin.

Nasi uduk Rp500 dan segala ciki-ciki, gorengan, mpek-mpek yang selalu bikin pengen nambah dan nambah yang bisa bikin kenyang walau uang saku hanya Rp1000.

Salah satu penjualnya adalah Mak Bonah. Mak Bonah seorang wanita keturunan Sunda dengan guratan keriput di wajahnya yang semakin bertambah tua, matanya teduh dan tampilannya sederhana, ciri khasnya adalah tutup kepala yang terbuat dari kain wol.

Mak Bonah menjual berbagai macam makanan dari mulai cireng gulung, cilok, ciki, sampai bala-bala. Untuk yang asing dengan istilah ini, bala-bala adalah bakwan, ya, bakwan. Bakwan buatan Mak Bonah itu buat saya spesial. Tidak terlalu asin, tipis tidak, tebal tidak, tapi garing, asli, gariiing banget. Walau saya agak susah saat mengolah makanan itu dalam mulut saya, tapi saya nggak pernah kapok untuk beli lagi dan lagi. Biasanya, bala-bala akan saya makan dengan olesan bumbu cilok, tentunya ga serta-merta minta bumbunya doang, tapi biasanya saya beli bala-bala plus cilok, karena ga enak cuma beli bala-bala tanpa ada olesan bumbu cilok. Nggak lengkap.

Cilok saat itu harganya Rp100 untuk ukuran yang ga kecil. Cukup puas makan satu, tapi selalu pengen lagi dan lagi. Setelah dioles bumbu cilok, maka bala-balanya akan melunak dan itu adalah saat yang pas untuk melumat habis bala-bala sampai ga bersisa. Nggak cuma itu, cireng Mak Bonah juga nggak kalah enak, saya beberapa kali coba buat gulung sendiri, tapi gagal. Akhirnya cireng buatan saya ambyar dan saya makan pake mangkok.

Setelah cucunya lulus SD, yang saya tau Mak Bonah pindah ke Jawa, saya nggak tau jelasnya dimana, tapi setelah saya lulus banyak penjual-penjual zaman saya yang nggak lagi jualan, karena kebanyakan sepuh jadi wajar kalau tidak terlihat lagi dan digantikan dengan penjual-penjual baru yang saya nggak familiar.

Demikian cerita saya tentang bala-bala buatan Mak Bonah yang legendaris saat itu. Saya tidak lupa bagaimana bala-bala dan cilok Mak Bonah mewarnai hari-hari saya sekolah saat itu. Bagaimana saya bolak-balik minta duit cuma buat beli cilok yang Rp100. Saya ga tau gimana kabar Mak Bonah sekarang, tapi saya berharap Mak Bonah selalu dalam lindungan-Nya, aamiin. Salam.

Membuang #1

Seperti yang kau lihat. Aku belum selesai dengan diriku sendiri. Aku masih harus bertengkar untuk kemudian terkapar.

Aku belum berdamai dengan diriku sendiri. Aku menangis. Jiwaku mengais, apa saja, yang bisa jadi amunisi, yang bisa jadi energi. Agar perih tak makin menjadi.

Kupikir aku hancur dengan diriku sendiri. Ada bagian yang tertawa, ada bagian yang benci sama sekali, ada yang berteriak minta dikasihani.

Apa yang ingin kau buktikan?”

Barangkali bukan manusia lain yang tiada peduli.

Barangkali bukan manusia lain yang palsu.

Barangkali masalahnya bukan di sekitarmu.

Tapi, kau.

Kau satu-satunya masalah itu.